Panduan Penyimpanan Vaksin: Suhu Ideal hingga Langkah Monitoring

Bagi Anda yang bertanggung jawab dalam memberikan atau memproduksi vaksin, pasti setuju bahwa produk biologis ini membutuhkan penyimpanan pada suhu yang dikontrol secara ketat. Jika tidak, kualitas vaksin akan rusak sehingga meningkatkan risiko infeksi maupun menurunkan efektifitas vaksin pada individu yang divaksinasi. Pertanyaannya, sudah pahamkah Anda terkait pedoman penyimpanan vaksin

Panduan Penyimpanan dan Cold Chain Vaksin

Fungsi Kulkas Vaksin

Berikut pedoman internasional terkait langkah-langkah utama menyimpan vaksin yang sesuai dengan ketentuan WHO dan Kemenkes:

1. Ketentuan Terkait Perangkat Penyimpanan

Sebelum menerapkan cara menyimpan vaksin dengan benar, Anda perlu memastikan bahwa perangkat yang Anda gunakan telah memenuhi standar yang ditentukan. Pertama, wajib gunakan kulkas atau freezer free-standing (berdiri sendiri). Top opening/bukaan atas (chest type) atau Front opening/bukaan depan (upright type) dapat disesuaikan dengan kebutuhan.

Kedua, jika fasilitas Anda masih menggunakan unit kulkas biasa/kulkas rumah tangga, segera ganti dengan kulkas vaksin khusus agar kegunaan sesuai dengan design kulkas. WHO tidak merekomendasikan penggunaan kulkas rumah tangga untuk penyimpanan vaksin.

Selain itu, pastikan perangkat yang dimiliki berkapasitas cukup untuk stok vaksin terbanyak dalam setahun. Jika Anda mencari perangkat untuk penyimpanan darurat jangka pendek, distribusi jarak jauh, atau penggunaan selama vaksinasi rutin di lapangan, Anda bisa mempertimbangkan vaccine transport cool box

Tindakan yang Perlu Anda Hindari

Jika terkait dengan perangkat penyimpanan vaksin, sebaiknya hindari:

  • Penggunaan kulkas rumah tangga untuk menyimpan vaksin karena tidak dirancang untuk menyimpan biologika dan sering mengalami fluktuasi suhu. 
  • Menempatkan perangkat terlalu dekat dengan tembok (harus berjarak minimal 10 cm dari tembok).

2. Suhu Ideal Vaksin

Setiap vaksin memiliki rentang suhu ideal yang harus dijaga secara konsisten. Ada golongan vaksin yang harus disimpan di kulkas (kisaran suhu 2°C ─ 8°C), di freezer (dengan suhu -50°C ─ -15°C), serta ultra-cold freezer (-90°C ─ -60°C). 

Jenis Perangkat PenyimpananJenis Vaksin yang Disimpan
Vaccine refrigerator anthrax, DTaP, DT, Td, Tdap, hepatitis A and B, Hib, HPV, influenza, R1, R5, MMR, Tdap meningococcal, pneumococcal, rabies, rotavirus, typhoid, zoster (shingrix), dan vaksin demam kuning.
Vaccine FreezerMMR, MMRV, Polio (oral & suntik), Mpox, varicella, and zoster (zostavax)
Ultra-Cold FreezerComirnaty, Pfizer-BioNTech COVID-19

 

3. Penempatan dan Penataan Vaksin

Cara Anda menempatkan vaksin di dalam unit penyimpanan juga menentukan stabilitas suhu. Agar memudahkan Anda untuk menata dan mengambil vaksin dengan lebih terorganisir, berikut ini beberapa ketentuan yang harus Anda perhatikan:

  • Beri label yang jelas pada setiap produk agar tidak tertukar.
  • Simpan vaksin dalam dus asli dan setiap dus harus berjarak minimal 2 cm.
  • Letakkan vaksin di tengah unit dengan jarak 5–7,5 cm dari dinding, pintu, lantai, dan ventilasi udara.
  • Simpan botol air dalam ruang kulkas dan botol air beku dalam freezer untuk membantu menjaga kestabilan suhu (beri label “JANGAN DIMINUM”).

Tindakan yang Perlu Anda Hindari

Untuk menjaga suhu vaksin sekaligus menghindari kelalaian akibat salah ambil dan kontaminasi, sebaiknya hindari hal-hal berikut:

  • Menyimpan vaksin yang mirip bersebelahan, baik itu dari bentuk kemasan maupun namanya (misalnya, Tdap dan DTaP, HepA dan HepB dan Hib).
  • Menaruh makanan atau minuman apapun di perangkat penyimpanan vaksin.
  • Menyimpan vaksin di rak paling atas (baik itu di perangkat kulkas maupun freezer) serta di dekat ventilasi udara dingin.
  • Menaruh vaksin di rak pintu atau di lantai kulkas.

4. Paparan Cahaya

Entah itu sinar matahari langsung maupun sinar UV (termasuk cahaya fluoresen), keduanya dapat secara signifikan menurunkan potensi vaksin. Jika vaksin sudah terlanjur terpapar cahaya matahari atau UV, segera beri label “Jangan Digunakan”, lalu pisahkan dari stok lain. 

Jangan lupa dokumentasikan tentang berapa lama vaksin telah dikeluarkan dari dus aslinya. Periksa juga apakah ada pasien divaksinasi dengan vaksin yang terdampak cahaya.

5. Pengelolaan Inventaris Vaksin

Salah satu tahap yang sangat penting bagi keberlanjutan penyimpanan vaksin adalah pengelolaan inventaris. Lakukan inventarisasi setidaknya seminggu sekali dan setiap kali ada pengiriman baru. 

Batasi juga jumlah stok agar tidak terlalu menumpuk, maksimal 60 hari untuk vaksin bulanan dan hanya 2–4 minggu untuk vaksin flu dan COVID-19. Selain itu, terapkan sistem rotasi stok dengan menempatkan vaksin yang paling mendekati tanggal kadaluarsa di bagian paling depan agar digunakan terlebih dahulu. 

Bagaimana jika terdapat vaksin dan dosis pelarutnya sudah terlanjur kadaluarsa dan tidak terpakai? Segera beri tahu kepala koordinator vaksin Anda atau laporkan ke dinas kesehatan kota/kabupaten setempat.

6. Monitoring Suhu Vaksin

Monitoring termasuk salah satu cara menjaga suhu vaksin agar kualitas dan efikasinya tetap stabil. Setiap unit penyimpanan harus dilengkapi perangkat pemantauan berkelanjutan, seperti data logger, yang telah terkalibrasi dengan sertifikat yang masih berlaku.

Anda perlu memeriksa dan mencatat suhu setidaknya 2 kali sehari, yaitu pagi dan sore, serta mencatat suhu minimum dan maksimum setiap awal hari klinik. Setelah pencatatan, perangkat perlu dirawat sesuai petunjuk produsen, lalu semua data harus direkam pada temperature log (lembar suhu) atau sistem elektronik (jika punya).

Apabila adanya perbedaan suhu (suhu di luar rentang yang seharusnya) lebih dari 30 menit, segera ambil tindakan-tindakan berikut:

  • Laporkan masalah tersebut ke supervisor supaya bisa didokumentasikan, termasuk penyebab, tindakan yang diambil, dan hasilnya.
  • Terapkan SOP di faskes Anda terkait penyimpangan suhu ideal vaksin.
  • Beri label “Jangan Digunakan” dan letakkan di wadah terpisah.

7. Audit Penyimpanan Vaksin

Untuk memastikan bahwa penyimpanan dan pengelolaan vaksin sudah sesuai standar, faskes Anda perlu melakukan audit mandiri setidaknya setiap setahun sekali. Audit ini bisa jadi dilakukan lebih dari sekali dalam setahun apabila terjadi masalah pada perangkat atau ditemukan pelanggaran panduan cold chain vaksin.

Melalui audit ini, Anda sebagai penyedia layanan imunisasi wajib menyiapkan pemantauan suhu yang terdokumentasi. Selain itu, harus ada bukti bahwa minimal 2 anggota tenaga kesehatan telah mendapatkan pelatihan. Selain menghindari kerusakan dan pemborosan vaksin sedini mungkin, Anda bisa lebih percaya diri bahwa vaksin yang diberikan tetap aman dan sesuai standar klinis.

8. Pemeliharaan Sarana Penyimpanan Vaksin

Lakukan pembersihan rutin pada perangkat penyimpanan secara berkala, baik bagian dalam maupun luar, menggunakan campuran air dan cairan pembersih yang ringan. Jika kulkas vaksin Anda belum memiliki fitur defrost otomatis, lakukan defrost manual minimal sebulan sekali atau saat bunga es sudah setebal 0,5 cm (taruh vaksin di cold box selama proses defrosting).

Jangan lupa untuk menjadwalkan perawatan rutin oleh teknisi berpengalaman. Perawatan rutin ini biasanya mencakup pemeriksaan kipas, termostat, kompresor, hingga kondisi segel pintu.

Kesimpulannya, penerapan prosedur penyimpanan vaksin yang tepat sangat penting dalam industri kesehatan dan farmasi. Mulai dari pengelolaan inventaris, monitoring suhu, hingga audit, harus dilakukan dengan mengikuti praktik terbaik dengan sikap proaktif, terutama saat mengatasi masalah yang muncul. 

Supaya tiap tahap dalam prosedur di atas berjalan optimal tanpa kendala, penting untuk berinvestasi pada kulkas atau freezer vaksin yang berkualitas. Di Biovalmed, Anda dapat menemukan rangkaian produk refrigerasi dari Haier Biomedical yang sudah teruji andal, sesuai standar, bahkan diakui secara global.

 

Referensi:

https://www.haiermedical.com/news/blog/temperature-controlled-storage-of-medicines-and-vaccines.html

https://www.cdc.gov/vaccines/hcp/admin/storage/downloads/vaccine-storage-temperatures.pdf