5 Cara Memilih Kulkas Vaksin yang Sesuai Standar Kemenkes dan WHO

Vaksin termasuk produk yang berperan penting dalam menyelamatkan jutaan nyawa dan efektivitasnya sangat bergantung pada kondisi penyimpanan yang ketat. Oleh sebab itu, penting bagi setiap faskes membeli kulkas vaksin yang proper dan sesuai standar. Akan tetapi sebelum membeli, bukankah lebih bijak jika Anda mencari tahu dulu cara memilih kulkas vaksin

Bukan hanya sekadar memastikan bahwa perangkat tersebut benar-benar memenuhi standar kulkas vaksin Kemenkes dan WHO, tapi banyak aspek lain yang harus diperhatikan. Nah, apa saja? Simak penjelasannya di artikel ini!

Bagaimana Standar Kulkas Vaksin WHO dan Kemenkes?

HBD-265, kulkas vaksin

Berikut adalah beberapa syarat utama yang harus Anda perhatikan agar kulkas vaksin yang Anda pilih memenuhi standar WHO maupun Kemenkes:

  • Rentang suhu penyimpanan wajib berada pada +2°C hingga +8°C, tanpa penurunan di bawah 0°C lebih dari 1 jam.
  • Mampu beroperasi stabil di zona panas +43°C, serta tetap berfungsi pada suhu lingkungan minimum +10°C atau lebih rendah.
  • Dilengkapi data logger dan temperature display yang berfungsi merekam dan memantau suhu.
  • Indikator lampu penanda sistem pendingin bekerja normal.
  • Material kabinet dan rangka tahan korosi and memiliki insulasi yang baik.

Mengapa Harus Memilih Kulkas Vaksin yang Memenuhi Standar?

kulkas vaksin

Sebelum beranjak ke pembahasan seputar cara memilih kulkas vaksin, perlu Anda ketahui bahwa mengabaikan standar bisa menimbulkan berbagai konsekuensi serius, di antaranya:

1. Integritas Vaksin Bisa Terganggu Jika Salah Pilih Kulkas Vaksin

Jika Anda memilih perangkat yang tidak dirancang mengikuti standar kulkas vaksin, fluktuasi suhu dapat mengganggu integritas dan efektivitasnya selama proses penyimpanan. Selain itu, perangkat penyimpanan yang tidak memenuhi standar akan meningkatkan risiko degradasi dan kontaminasi mikrobiologis. 

Beda ceritanya jika Anda menyimpan vaksin di kulkas khusus yang dilengkapi dengan teknologi temperature control sehingga suhu vaksin tetap konsisten di rentang 2°C – 8°C seperti yang telah ditetapkan. Belum lagi multi-layer insulation, environmental friendly refrigerant, serta microprocessor-based thermostat-nya membantu mencegah terjadinya pembekuan maupun overheating dan ramah lingkungan.

2. Kepatuhan Terhadap Peraturan

Apakah fasilitas kesehatan Anda telah menerapkan penyimpanan vaksin berdasarkan pedoman resmi? Jika belum, ini saatnya mengevaluasi ulang. Kepatuhan terhadap standar yang ada bukan hanya kewajiban administratif, tetapi juga bentuk tanggung jawab moral dalam menjaga mutu layanan kesehatan.

Selain itu, proses audit fasilitas kesehatan kini semakin ketat. Jika perangkat penyimpanan vaksin tidak sesuai standar, Anda dapat menghadapi teguran, peringatan, hingga sanksi administratif. Jadi alih-alih menanggung konsekuensi tersebut, lebih baik memastikan bahwa perangkat yang digunakan telah mengikuti seluruh ketentuan rantai dingin yang disyaratkan.

3. Menghindari Risiko dalam Berbagai Aspek

Risiko terbesar dari penyimpanan yang tidak efektif tentu saja berkaitan dengan keamanan pasien. Vaksin yang tidak manjur (potensinya menurun) tidak akan memicu respons imun yang optimal alias sia-sia. 

Salah satu kasus kegagalan vaksin pernah terjadi di Kosrae, Federated States of Micronesia (FSM) tahun 2014, pertama kalinya setelah 20 tahun tanpa laporan wabah campak di daerah tersebut. Di antara 393 pasien campak, 306 di antaranya sudah memiliki catatan vaksinasi dan 87 sisanya memiliki status vaksinasi yang tidak diketahui termasuk 74 orang dewasa.

Setelah ditinjau, kegagalan tersebut rupanya diakibatkan oleh kekurangan dalam manajemen dan penyimpanan vaksin. Di antaranya penggunaan perangkat pemantauan suhu yang tidak memenuhi standar, paparan suhu beku selama proses distribusi vaksin, kurangnya akses ke generator cadangan, dan tidak adanya dokumentasi riwayat pemantauan suhu.

Selain risiko klinis, terdapat juga risiko kerugian finansial. Seperti yang Anda ketahui bahwa vaksin merupakan produk bernilai tinggi baik dari sisi produksi maupun distribusinya. 

Jika Anda gagal mematuhi pedoman penyimpanan, vaksin pun terancam rusak dan harus dibuang. Akibatnya, fasilitas kesehatan Anda harus menanggung biaya penggantian vaksin sekaligus sanksi administratif.

Faktor Apa Saja yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Membeli Kulkas Vaksin?

Agar investasi Anda tidak sia-sia, mari pahami dulu cara memilih kulkas vaksin yang tepat untuk fasilitas Anda dan tentunya sesuai standar. Berikut ini faktor-faktor yang perlu Anda pertimbangkan sebelum melakukan pembelian:

1. Kapasitas dan Kebutuhan Vaksin

Umumnya, kapasitas kulkas vaksin yang tersedia di pasaran berkisar antara 80 – 260 Liter dan setiap faskes memiliki kebutuhan penyimpanan yang berbeda, tergantung frekuensi layanan serta jenis dan volume vaksin yang mampu diberikan. 

Misalnya, klinik imunisasi atau puskesmas biasanya cukup dengan kulkas vaksin yang berkapasitas sedang. Sedangkan laboratorium medis, laboratorium penelitian, dan rumah sakit (negara maupun swasta) membutuhkan unit berkapasitas tinggi untuk menyimpan stok vaksin dari berbagai departemen.

2. Kontrol Suhu

Suhu adalah “nyawa” dari rantai dingin. Karena itu, cara memilih kulkas vaksin yang tepat selalu dimulai dengan memilih perangkat yang memiliki kontrol suhu akurat. Pastikan kulkas dilengkapi kompresor berkualitas, microprocessor thermostat serta dukungan rancangan insulasi yang tepat untuk menjaga suhu internal tetap konsisten. 

3. Konsumsi Energi

Karena kulkas vaksin harus beroperasi 24/7 tanpa jeda, pertimbangkan juga efisiensi energinya. Semakin hemat energi perangkat Anda, semakin kecil pula biaya operasional yang harus ditanggung setiap bulan. 

Umumnya, kulkas vaksin masih menggunakan sistem pendingin berbasis kompresor (andal tapi cukup boros listrik). Namun, seiring berkembangnya kebutuhan fasilitas kesehatan, banyak produsen kini menawarkan kulkas vaksin dengan design insulasi khusus dan hydrocarbon-energy saving refrigerant untuk mendukung hal ini.

4. Ketersediaan Garansi dan Dukungan After-Sales

Untuk keamanan jangka panjang, pemasok kulkas vaksin Anda menyediakan sertifikat garansi minimal 1 tahun. Selain itu, Anda perlu memastikan pemasok menyediakan layanan purna-jual yang jelas, termasuk maintenance. Tanyakan juga jaminan ketersediaan suku cadang selama 5 tahun sebelum model alat discontinue.

5. Perhatikan Desain dan Fitur

Cara memilih kulkas vaksin berikutnya adalah melihat fitur-fitur pendukungnya. Untuk desain atau modelnya, sangat direkomendasikan untuk memilih kulkas vaksin dengan bukaan atas (style peti). Karena udara dingin lebih berat daripada udara hangat, kulkas vaksin bergaya peti lebih efektif mempertahankan udara dingin (antara 2 – 8°C), meski kulkas sering dibuka tutup. Sebab itu, kulkas vaksin bukaan atas sangat cocok untuk penyimpanan vaksin dengan jangka waktu yang lebih panjang.

Selain desain, pastikan kulkas dilengkapi fitur-fitur penting berikut:

  • Tampilan suhu digital agar suhu mudah dibaca atau dipantau.
  • Alarm suara dan/atau visual yang memberi peringatan saat terjadi suhu abnormal.
  • Keranjang dan kompartemen yang dapat memudahkan mengorganisir penyimpanan vaksin
  • Tingkat kebisingan mesin yang rendah ( <45dB).
  • Data logger atau pencatat suhu untuk pencatatan suhu selama penyimpanan vaksin berlangsung.

 

Demikianlah sederet cara memilih kulkas vaksin yang bisa Anda terapkan. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas, Anda dapat memastikan bahwa perangkat penyimpanan vaksin pilihan Anda tidak hanya memenuhi standar kulkas vaksin WHO dan Kemenkes, tetapi juga menunjukkan komitmen untuk menjaga kualitas layanan kesehatan. 

Jika Anda merasa masih bingung karena kebutuhan penyimpanan yang kompleks, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan distributor spesialis refrigerasi, seperti PT. Biovalmed. Dengan pengetahuan mendalam tentang model dan merek penyimpanan khusus vaksin, Anda bisa memperoleh rekomendasi kulkas vaksin yang paling cocok dengan kebutuhan faskes Anda.

Referensi:
https://www.haiermedical.com/news/Where-could-vaccines-be-stored-in-high-temperature-areas.html

https://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm6438a7.htm